Matahari baru saja menguap di ufuk timur Nagari Maloro, Kamang Baru. Udara segar khas Sijunjung merayap masuk melalui celah jendela kamar Boni, seorang bocah laki-laki berambut jabrik yang selalu punya ide-ide “ajaib” di kepalanya.
Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari keberangkatan “Pasukan Kancil” menuju Air Terjun Maloro.
Anggota pasukan itu hanya tiga orang: Boni sebagai komandan (yang sering salah baca kompas), Gery yang bertubuh bulat dan selalu membawa tas penuh makanan, serta Lulu, gadis kecil berkuncir dua yang paling pintar matematika tapi paling takut dengan ulat bulu.
“Semua sudah siap?” tanya Boni sambil memakai kacamata renang di dahinya, padahal mereka masih di teras rumah.
“Siap, Komandan!” jawab Gery sambil mengunyah keripik pisang. “Aku sudah membawa perbekalan untuk bertahan hidup selama tiga hari.”
“Gery, kita cuma pergi sampai sore!” potong Lulu sambil memutar bola matanya. “Dan kenapa tasmu bau jengkol teri?”
“Itu rahasia kekuatan, Lu. Kalau kita tersesat, bau jengkol ini bisa menjadi pemandu jalan pulang,” jawab Gery santai.
Petualangan pun dimulai.
Nagari Maloro di Kamang Baru terkenal dengan perbukitannya yang hijau dan asri. Untuk mencapai air terjun, mereka harus melewati jalan setapak yang membelah kebun karet warga. Suara kicauan burung kacer bersahut-sahutan, seolah mengejek langkah Gery yang mulai terengah-engah padahal baru berjalan sepuluh menit.
“Boni, apakah air terjunnya masih di depan?” tanya Gery sambil menyeka keringat. “Rasanya lemak di perutku sudah mulai mencair jadi minyak goreng.”
“Sabar, Ger. Menurut insting petualangku, kita tinggal belok kanan di pohon durian besar itu,” kata Boni mantap sambil menunjuk sebuah pohon.
Namun, setelah belok kanan, mereka bukan menemukan air terjun, melainkan bertemu dengan seekor kerbau besar yang sedang asyik berkubang. Kerbau itu menatap mereka dengan tatapan malas, lalu mengeluarkan suara lenguhan panjang:
“Moooooo!”
“Aaaah! Kerbau itu bicara padaku! Dia bilang kita salah jalan!” teriak Gery panik dan hampir lari terbirit-birit.
“Dia tidak bicara, Gery! Dia cuma menyapa,” kata Lulu sambil tertawa. “Boni, lihat kompasmu lagi. Kita seharusnya mengikuti arah aliran anak sungai, bukan mengikuti insting durianmu.”
Setelah perdebatan kecil yang lucu—termasuk momen di mana Boni hampir terpeleset karena menginjak kulit pisang yang dibuang Gery sendiri—mereka akhirnya menemukan jalur yang benar. Suara gemuruh air mulai terdengar sayup-sayup dari balik rimbunnya pohon pakis.
Tantangan berikutnya adalah menyeberangi jembatan kayu kecil yang licin karena lumut. Boni berjalan dengan gaya pahlawan di film aksi, melompat-lompat kecil dengan lincah. Lulu mengikuti di belakang dengan sangat hati-hati.
Malang bagi Gery. Saat berada di tengah jembatan, sebuah bunyi ceplok terdengar.
“Sandal jepitku!” teriak Gery.
Sandal jepit sebelah kanan Gery terlepas dan jatuh ke aliran sungai yang cukup deras di bawah jembatan. Sandal berwarna hijau neon itu hanyut dengan cepat, bergoyang-goyang terbawa arus seperti perahu kecil yang sedang berlomba.
“Pasukan! Misi penyelamatan sandal dimulai!” seru Boni.
Mereka berlari di pinggir sungai mengejar sandal itu. Gery berlari dengan satu kaki beralas sandal dan satu kaki telanjang, membuatnya melompat-lompat seperti pemain engklek.
“Kejar, Lu! Jangan sampai sandal itu sampai ke Samudra Hindia!” teriak Gery dramatis.
Aksi kejar-kejaran itu berakhir lucu saat sandal tersebut tersangkut di sebuah batu besar di tengah sungai. Boni dengan gagah berani mencoba mengambilnya menggunakan ranting panjang, namun malah rantingnya yang patah. Akhirnya, Lulu yang cerdik melemparkan tali jemuran yang ia bawa (entah untuk apa) dan berhasil mengait sandal itu.
“Sandal ini sudah menempuh perjalanan lebih jauh dariku hari ini,” gumam Gery sambil memakai kembali sandalnya yang basah kuyup.
Setelah melewati perjuangan sandal dan “teror” kerbau, pepohonan di depan mereka mendadak terbuka. Sebuah tirai air raksasa jatuh dari ketinggian tebing batu yang megah. Airnya jernih mengkilap seperti berlian yang mencair, menghantam kolam alami di bawahnya hingga menciptakan uap air yang sejuk dan menyegarkan.
“Wah… cantik sekali,” bisik Lulu takjub.
“Ini dia, Air Terjun Maloro!” seru Boni. “Pasukan, misi berhasil!”
Tanpa menunggu komando kedua, Boni dan Gery langsung berlari menuju pinggiran kolam. Namun, karena terlalu bersemangat, Gery lupa mengerem langkahnya di atas batu yang licin.
Byuuurrr!
Gery tercebur ke air dengan posisi perut duluan. Air menyemprot ke segala arah seperti ada bom air yang meledak. Boni dan Lulu bukannya menolong, malah tertawa sampai memegangi perut mereka.
“Gery, kau ini mau mandi atau mau menguras air terjun?” goda Boni.
“Aku cuma mau mengecek kedalaman air secara mendadak,” jawab Gery sambil menyembulkan kepala, rambutnya yang lepek menutupi matanya.
Mereka pun mandi sepuasnya. Air di Pemandian Maloro terasa sangat dingin dan segar, seolah menghapus semua rasa lelah setelah berjalan jauh. Mereka berenang ke bawah kucuran air terjun, merasakan hantaman air yang memijat punggung mereka. Boni mencoba melakukan gaya renang indah yang malah terlihat seperti gaya orang tenggelam, sementara Lulu sibuk mengumpulkan batu-batu kali yang berwarna-warni.
Setelah dua jam bermain air sampai jari-jari mereka keriput, perut mereka mulai berbunyi. Mereka naik ke daratan dan duduk di atas batu datar yang hangat terkena sinar matahari. Gery dengan bangga mengeluarkan bekal “rahasianya”.
“Inilah saatnya! Nasi bungkus jengkol teri ala Ibu Gery!
Aroma jengkol segera memenuhi udara hutan Maloro. Anehnya, di tengah alam yang asri, bau itu malah terasa sangat menggugah selera. Mereka makan dengan lahap, menggunakan daun pisang sebagai alasnya.
“Boni, Lulu,” kata Gery sambil mengunyah ikan teri. “Terima kasih ya sudah membantuku mengejar sandal tadi. Kalau tidak, aku mungkin harus pulang dengan cara melompat satu kaki sampai ke rumah.”
Lulu tersenyum.
“Itulah gunanya teman, Ger. Tapi janji ya, setelah ini jangan buang sampah sembarangan di sini. Lihat, tempat ini begitu indah. Jangan sampai ada plastik bekas keripikmu yang tertinggal.”
Boni mengangguk mantap. “Betul. Sebagai Komandan Pasukan Kancil, aku memerintahkan misi pembersihan sebelum kita pulang!”
Mereka pun berkeliling sebentar untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Mereka menemukan beberapa botol plastik bekas pengunjung lain dan memasukkannya ke dalam tas sampah yang mereka bawa.
Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna emas pada aliran air Maloro. Jalur pulang terasa lebih santai. Meskipun lelah, wajah ketiga sahabat itu bersinar bahagia.
“Petualangan selanjutnya ke mana, Komandan?” tanya Lulu saat mereka hampir sampai di gerbang nagari.
Boni berpikir sejenak, lalu membetulkan letak kacamata renangnya yang masih ada di dahi. “Mungkin ke gua tersembunyi, atau mendaki bukit tertinggi di Kamang Baru. Tapi yang pasti, tidak boleh ada sandal yang hanyut lagi!”
Mereka tertawa bersama, suara tawa mereka memecah kesunyian sore di Nagari Maloro. Petualangan hari itu mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan tidak hanya ditemukan di tempat tujuan, tetapi juga pada setiap kejadian lucu, setiap kesalahan jalan, dan setiap bantuan kecil di antara sahabat.
Pemandian Air Terjun Maloro tetap berdiri kokoh di sana, menanti kepulangan anak-anak pemberani itu di lain waktu, membawa lebih banyak tawa dan cerita yang takkan pernah habis untuk diceritakan.
Bionarasi Penulis
Andika Sutra, S.Pd atau yang sering akrab disapa Andika CN atau Akang CN adalah pemuda asli Tanjung Lolo, Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam 45 Bekasi Jawa Barat kemudian pindah ke UMMY Solok Sumatera Barat. Andika merupakan pemuda yang hobi menulis diantaranya: cerpen, puisi, esai dan pantun. Andika Bercita-cita menjadi seorang dosen. Namun, karena sering bolak balik dari Ranah Minang ke Tanah Pasundan membuatnya mengundurkan niatnya itu. Selama kuliah sambil bekerja di Bekasi, Andika sudah sering menulis diantaranya puisi. Puisi pertama Andika yaitu “Persahabatan Kita”. Kini, Andika menjadi guru di SMKN 4 Sijunjung dan Tutor di PKBM Nurul Ihsan Tanjung Gadang.








