PADANG, KabaTerkini.com – Pembangunan Jalan layang (Flyover) Sitinjau Lauik Kota Padang saat ini sedang berlangsunh. Kementerian PUPR menargetkan masa kontruksi pembangunan mega proyek di Sumbar itu 2,5 tahun.
Dilihat dari maket dan video animasinya, Fly Over Sitinjau Lauik sangat menawan. Berada di sela-sela puncak Bukit Barisan perbatasan Padang, Solok, keindahan Flyover makin sempurna dengan terlihat paparan Kota Padang hingga lautan Samudera Hindia.
Di sore hari, dari atas Flyover Sitinjau Lauik, jalan layang yang menghubungkan langit dan bumi. Dari sini, Kota Padang membentang bak surga kecil—atap-atap rumah, jejeran bukit, dan laut lepas di ufuk barat.
Pagi hari, kabut berarak pelan di sela pohon pinus. Siang hari, awan putih bergerak tenang.
Menjelang senja, langit berubah jingga keemasan. Dan pada malam hari, Cahaya kota berpadu bintang, seperti bisikan sunyi dari Padang:
PT Hutama Karya (Persero) membangun Flyover Panorama I (Sitinjau Lauik I) melalui skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) untuk proyek KPBU Sitinjau Lauik I dilaksanakan pada Jumat (21/03/25) lalu bertempat di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta Selatan, oleh Direktur Jenderal Bina Marga Roy Rizali Anwar dan Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) Michael AP Rumenser.
EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Adjib Al Hakim, menyampaikan bahwa proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Flyover Sitinjau Lauik ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas infrastruktur di Sumatera Barat.
“Dengan skema KPBU, kita dapat memastikan bahwa proyek ini tidak hanya cepat tanggap dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat,” ujar Adjib dalam keterangan tertulis, Senin (24/3/2025).
Proyek ini melibatkan PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (PT HPSL) sebagai Badan Usaha Pelaksana (BUP), yang dibentuk oleh konsorsium antara Hutama Karya (55%) dan HKI (45%).
Proyek bernilai Rp 2,79 triliun ini diperkirakan selesai dalam waktu 2,5 tahun masa konstruksi, dan 10 tahun masa operasi.
Pekerjaan meliputi perencanaan teknis, pembangunan jalan dan jembatan (flyover) sepanjang 2,774 km, serta preservasi selama masa operasional.
“Flyover ini juga akan membuka akses lebih luas ke destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat, seperti Danau Singkarak dan Lembah Harau, sehingga meningkatkan potensi pariwisata di wilayah tersebut, maupun memperlancar distribusi barang dan logistik, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan menurunkan biaya logistik, serta dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga lokal.” tutur Adjib. (*/001)






