PADANG, KabaTerkini.com – Tim PKM-K Universitas Negeri Padang kembali mencetak inovasi luar biasa melalui melalui pembuatan inovasi alat pengendali hama canggih bernama AGRIGUARD.
Alat tersebut berbasis Internet of Things (IoT) dan menggunakan energi surya (solar cell) sebagai sumber daya utama. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai solusi modern dan ramah lingkungan untuk membantu petani mengatasi serangan hama tanpa menggunakan pestisida kimia.
Berangkat dari keprihatinan terhadap dampak negatif pestisida yang dapat mencemari tanah dan air, AGRIGUARD dirancang agar mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Alat tersebut bekerja dengan memancarkan gelombang ultrasonik dan cahaya UV berkawat listrik untuk mengusir hama seperti tikus, burung, dan serangga. Seluruh sistemnya dapat dikendalikan secara jarak jauh melalui aplikasi IoT di ponsel pintar, sehingga pengguna dapat mengoperasikan alat dari mana pun.
“Selama ini petani masih bergantung pada pestisida karena dianggap satu-satunya cara yang cepat. Padahal ada cara yang lebih aman dan hemat energi. AGRIGUARD kami rancang agar mudah digunakan dan bisa menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Rifqi Wahyu Rizaldi, pengembang utama AGRIGUARD.
Dari sisi desain, AGRIGUARD dibuat ringan, praktis, dan tahan terhadap berbagai kondisi cuaca di lapangan. Dengan harga berkisar antara Rp250.000 hingga Rp450.000 per unit, alat ini dinilai terjangkau, efisien, dan dapat digunakan berulang hingga beberapa musim tanam tanpa perawatan rumit.
Anggota Tim, Deka Saputra menjelaskan bahwa proses pengembangan AGRIGUARD melalui berbagai tahap uji coba lapangan.
“Kami berusaha membuat alat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. Dari hasil uji coba, AGRIGUARD terbukti efektif mengusir hama tanpa merusak lingkungan,” tuturnya.
Sementara itu, Mahrizal menambahkan bahwa kehadiran AGRIGUARD diharapkan dapat menjadi langkah kecil menuju pertanian yang lebih modern dan mandiri energi.
“Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa juga bisa memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Inovasi ini lahir dari keinginan kami untuk membantu petani menghadapi tantangan perubahan zaman,” ujarnya.
Dosen Pembimbing, Wawan Purwanto, S.Pd., M.T., Ph.D mengapresiasi kerja keras ketiga mahasiswanya tersebut.
Menurut Wawan, AGRIGUARD adalah bukti nyata bahwa mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan teknologi dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Saya bangga dengan kreativitas dan kepedulian mahasiswa UNP dalam menciptakan teknologi tepat guna. AGRIGUARD bukan hanya sekadar proyek PKM, tetapi solusi yang berpotensi memberikan dampak nyata bagi petani dan lingkungan,” ungkapnya.
Selain menjadi solusi inovatif, AGRIGUARD juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 2 (Tanpa Kelaparan), poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), dan poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Kedepan, Tim Pengembang AGRIGUARD berencana untuk memperluas pengujian dan memperkenalkan alat ini ke berbagai daerah di Sumatera Barat.
Mereka juga tengah mengembangkan versi lanjutan dengan fitur sensor adaptif otomatis yang dapat menyesuaikan frekuensi ultrasonik sesuai jenis hama yang terdeteksi di lahan pertanian.
“Harapan kami, AGRIGUARD bisa menjadi bagian dari perubahan menuju pertanian yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia,” tutup Rifqi optimistis. (*/001)






