Bagaimanakah kondisi murid Indonesia hari ini? Sudah siapkah mereka menjadi generasi emas atau kita yang menjadikannya generasi “(c) emas”?
Seperti yang kita pahami bahwa tujuan utama pendidikan bukan sekedar mengejar angka atau peringkat di atas kertas, melainkan membentuk manusia yang bernilai bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.
Nilai akademis hanyalah salah satu indikator, bukan tolok ukur utama keberhasilan seseorang. Terlalu banyak orang terjebak pada obsesi mendapatkan nilai sempurna, hingga lupa bahwa kecerdasan sejati tercermin dalam budi pekerti dan prilaku yang baik yang ditunjang oleh kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan bermanfaat bagi orang lain.
Apabila pendidikan hanya dijadikan sarana untuk mengoleksi sertifikat atau nilai?, maka sekolah kehilangan ruhnya sebagai tempat menumbuhkan manusia seutuhnya. Sekolah seharusnya menanamkan rasa ingin tahu mendalam kepada murid, membentuk karakter santun, dan menumbuhkan integritas. Orang yang cerdas di atas kertas belum tentu mampu menghadapi kompleksitas hidup jika tidak memiliki keberanian, kejujuran, dan kepekaan sosial.
Maka dari itu, pendidikan harus berfokus pada pengembangan manusia seutuhnya yang memiliki kecerdasan akal dan jiwa, bukan sekedar pencetak angka di atas kertas rapor dan ijazah.
Lebih jauh lagi, pendidikan “menjadi bernilai” adalah bagaimana ilmu yang diperoleh murid bisa memberi manfaat bagi orang di sekitarnnya.
Seorang murid yang bernilai bukan hanya pandai memecahkan soal ujian, melainkan mampu memecahkan masalah nyata dalam masyarakat. Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak hanya mendidik murid untuk menjadi pintar, tetapi juga untuk menjadi manusia yang berkarakter baik, peduli, dan siap menghadapi tantangan dunia dengan penuh integritas.
Ketika di sekolah sedang berupaya menumbuhkan murid berkarakter baik, berbudi pekerti luhur, di situlah dilema terjadi. Terkadang pihak sekolah seperti memakan buah simalakama. Ditegakkan aturan disalahkan. Tidak ditegakkan lebih salah lagi.
Seperti kejadian yang menghebohkan publik baru-baru ini sebagaimana berita ”6 Fakta Kasus Kepala SMA Negeri 1 Cimarga Diduga Tampar Siswa, Berakhir Dinonaktifkan” (Kompas.com. 14/10/2025), di satu sisi guru ingin menegakkan aturan sekolah yaitu melarang siswa merokok, namun di sisi lain adanya ketidaksepakatan orang tua murid dengan penegakkan aturan yang dilakukan guru karena orang tua murid hanya mendengarkan cerita sepihak dari anaknya. Tanpa konfirmasi kepada pihak sekolah, akhirnya Orangtua murid membuat laporan ke polisi.
Meskipun, akhirnya kasus tersebut berakhir damai dan saling memaafkan. Berdasarkan laporan Kompas.com “Akhir Damai Kasus Siswa SMA Negeri 1 Cimarga: Minta Maaf, Laporan Dicabut, dan Siswa Disanksi (Kompas.com 16/10/2025).
Ke depan kita berharap di manapun sekolahnya, komunikasi dua arah sangat penting dilakukan, dari pihak sekolah dan orangtua murid. Apapun tingkah laku anak di sekolah secepatnya perlu dikomunikasikan segera dengan orangtua murid.
Orangtua murid hendaknya juga bijaksana merespons apa yang disampaikan pihak sekolah tentang anaknya yang bermasalah, jangan mendengarkan keterangan dari anak saja, tanpa mendengar dan menganalisis penjelasan dari kedua belah pihak.
Penulis yakin dan percaya dimana pun sekolah berada, tak ada satupun niat guru-gurunya yang ingin mencelakai muridnya. Pasti niat tulus dari lubuk hatinya, ingin mendidik dan mencerdaskan generasi bangsa Indonesia yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, beriman dan bermental baja.
Dengan demikian, pendidikan sejati bukanlah tentang akumulasi nilai bagi para murid, melainkan perjalanan membentuk diri agar lebih bermakna. Nilai akademis murid bisa hilang, sertifikat bisa usang, tetapi nilai dalam diri murid yang dibangun melalui sikap santun, tingkah laku yang baik, pengetahuan yang bermanfaat, dan kebermanfaatan ilmunya bagi kehidupan akan selalu dikenang.
Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya yang menghasilkan murid dengan orientasi nilai tinggi, tetapi murid dengan kualitas hidup yang seimbang antara kecerdasan emosi dan intelektual yaitu murid bernilai akademik tinggi yang memiliki budi pekerti luhur.
Hal ini bisa terwujud dengan kolaborasi harmonis dan kesepahaman tujuan proses belajar mengahar antara orangtua, guru sekolah, dan tentu saja pemerintah yang mendukung penuh segala aturan yang telah ditetapkan di sekolah demi terciptanya generasi emas Indonesia.
PROFIL SINGKAT PENULIS
Putri Andam Dewi, M.Pd. memiliki nama pena dan nama di media sosial Puanwi Lestari lahir di Jakarta, 10 Sepetember 1980. Menghabiskan masa remaja di SMP Suluh Pasar Minggu Jakarta, dan SMK Negeri 47 Jakarta Selatan. Menyelesaikan S1 dan S2 di UNP. Kini berdinas di SMK Negeri 8 Sijunjung di Nagari Manganti Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat sebagai Kepala Sekolah.






