Opini

Menjaga Etika Islam di Tengah Revolusi Dunia Digital

Editor - Dilla S.Pd
×

Menjaga Etika Islam di Tengah Revolusi Dunia Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh - Tsaqif Maulana (Siswa SMA Negeri 1 Bukittinggi)

Dalam dunia Islam, mencari ilmu pengetahuan merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan, dijanjikan bagi orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan beriman hanya kepada Allah SWT, akan diangkat derajatnya di sisi Allah SWT, sesuai janji-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah ayat 11.

BIONARASI

Tsaqif Maulana, senang dipanggil dengan nama Tsaqif. Kelahiran Bukittinggi pada tanggal 22 September 2007. Sekarang sedang belajar di SMAN 1 Bukittinggi kelas XII F3. Selain aktif di organisasi Forum Studi Islam dan kajian-kajian, juga gemar mengikuti berbagai perlombaan akademik. Dan memulai kegemaran menulis artikel dan cerpen. Bisa dihubungi melalui email tsaqifmaulana499@gmail.com.

Tidak itu saja, Islam tidak membatasi pada satu gender saja, baik muslim laki-laki maupun perempuan wajib hukumnya untuk memiliki ilmu pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam dari waktu ke waktu menorehkan jejak emas melalui perangkat canggih pada masanya. Salah satunya adalah astrolab, hasil karya seorang ilmuwan wanita muslim bernama Maryam Al Ijliya atau terkenal dengan nama Maryam Al-Asturlabiyyah pada abad ke-10 M.

Astrolab adalah alat astronomi yang digunakan untuk mengukur posisi bintang, matahari, dan planet, serta menentukan waktu, arah, dan lokasi geografis, serta ketinggian gunung. Penemuan ini sangat penting dalam perkembangan astronomi, navigasi, dan ilmu pengetahuan Islam.

Alat ini bukan sekadar instrumen navigasi, tetapi simbol perpaduan harmonis antara ilmu pengetahuan, kebutuhan praktis, dan ketaatan spiritual dalam menentukan arah kiblat dan waktu salat.

Kini, ribuan tahun kemudian, kita berada di tengah revolusi yang digerakkan oleh “algoritma”. Jika astrolab adalah wujud kecerdasan mekanis, maka algoritma adalah otak dari dunia digital yang mengendalikan arus informasi, ekonomi, hingga interaksi sosial kita.

Peralihan dari astrolab ke algoritma ini menghadirkan sebuah pertanyaan mendesak, yaitu: mampukah kerangka etika Islam yang sama, yang dulu memandu para ilmuwan Muslim, tetap relevan untuk menjaga moralitas di tengah gempuran revolusi digital?

Warisan Zaman Keemasan Islam adalah bukti nyata bahwa iman dan nalar tidak harus bertentangan. Para cendekiawan, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Biruni tidak melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang terpisah dari keimanan. Sebaliknya, riset ilmiah dipandang sebagai jalan untuk memahami kebesaran ciptaan Allah.

Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 33: “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”

Astrolab merupakan salahsatu produk dari semangat itu. Ia lahir dari kebutuhan untuk memetakan bintang, menavigasi lautan luas untuk berdagang, sekaligus yang lebih penting bagi umat Islam, yakni instrumen buatannya bisa menentukan waktu salat dan tanggal Ramadhan.

Teknologi pada masa itu dikembangkan dengan tujuan yang jelas: untuk membawa kemaslahatan (maslahah) dan menolak kemudaratan (mafsadah). Inovasi tidak hanya didorong oleh rasa ingin tahu, tetapi juga oleh sebuah kompas moral yang berakar pada nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kemanfaatan bagi umat manusia.

Memasuki abad ke-21, panggung inovasi didominasi oleh algoritma. Kodekode tak kasat mata ini telah menjadi arsitek kehidupan modern. Ia mampu membantu menentukan berita apa yang kita baca di media sosial, merekomendasikan produk yang kita beli, bahkan mampu mempercepat proses penelitian dan inovasi diberbagai bidang ilmu pengetahuan.

Kecerdasan buatan (AI) yang didasarkan pada algoritma kompleks juga mampu mendiagnosis penyakit dan mengemudikan mobil. Namun, di balik kemampuannya yang luar biasa, tersembunyi tantangan etis yang pelik.

Algoritma dapat dirancang dengan biasa yang mereplikasi ketidakadilan sosial, data pribadi kita dieksploitasi tanpa izin untuk kepentingan komersial, dan gelembung informasi (filter bubble) yang diciptakannya dapat menyuburkan hoaks dan fitnah yang berakibat pada kondisi terpecah belahnya masyarakat.

Tanpa panduan etika yang kuat, teknologi yang seharusnya memberdayakan justru berpotensi merusak tatanan sosial dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Di sinilah etika Islam menawarkan panduan yang tak lekang oleh waktu. Prinsip-prinsip syariah yang dulu relevan untuk astrolab, kini dapat kita terapkan untuk mengawal perkembangan algoritma, yaitu:

  • Pertama, Amanah (Kepercayaan): Data pribadi adalah sebuah amanah. Pengembang teknologi dan perusahaan digital memikul tanggung jawab untuk melindungi data pengguna, bukan mengeksploitasinya. Pengguna pun memiliki tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakan data orang lain.
  • Kedua, ‘Adl (Keadilan): Prinsip keadilan menuntut agar algoritma dirancang tanpa bias ras, gender, atau status sosial. Para insinyur Muslim memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa produk teknologi yang mereka ciptakan tidak membiarkan terjadinya diskriminasi dan ketidaksetaraan.
  • Ketiga, Tabayyun (Verifikasi): Di tengah derasnya arus informasi, Al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan klarifikasi atau tabayyun. Prinsip itu menjadi benteng pertahanan paling krusial melawan penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian yang difasilitasi oleh algoritma media sosial.
  • Keempat, Wasatiyyah (Moderasi): Islam mengajarkan keseimbangan. Teknologi digital, dengan segala daya tariknya, dapat menjerumuskan penggunanya ke dalam perilaku adiktif dan lalai dari tanggung jawab di dunia nyata, termasuk ibadah.

Prinsip moderasi mengajak kita untuk memanfaatkan teknologi secara bijak, bukan diperbudak olehnya. Pada akhirnya, perjalanan dari astrolab ke algoritma menunjukkan bahwa alatnya boleh berubah, tetapi esensi kemanusiaan dan kebutuhan akan panduan moral tetaplah sama.

Islam tidak anti-teknologi, tetapi sebaliknya ia mendorong inovasi yang membawa manfaat. Tantangan bagi umat Muslim saat ini bukanlah menolak kemajuan, melainkan menjadi peserta aktif dalam revolusi digital dengan membawa warisan etika peradabannya.

Kita perlu melahirkan lebih banyak teknolog, ilmuwan, dan pembuat kebijakan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa algoritma yang kita ciptakan tidak hanya “pintar”, tetapi juga “bijaksana”—sebuah teknologi yang melayani kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta, bukan menjauhkan.***

Baca Juga  Sekolah Kesetaraan: Menjembatani Kesenjangan, Meraih Asa Pendidikan