Gregor dengan setengah kesadarannya menyadari bahwa dia sekarang berada di tempat yang tidak dia kenali. Tempat ini sangat gelap, dengan hanya satu sumber cahaya dari lentera yang ada di atas meja tua. Saking redupnya lentera itu, Gregor bahkan tidak bisa melihat tembok ruangan tempat dia dikurung sekarang.*

BIODATA PENULIS
Nama : Andrea Wikrana Lahir : Klaten, 01 Agustus 2011 Alamat : Jorong Lawang Tuo, Nagari Lawang Kabupaten Agam
Gregor tidak bisa berbuat apa-apa. Dia baru sadar kalau tangannya sudah ditali di kursi yang didudukinya. Karena itulah dia hanya melamun selama dikurung di ruangan misterius ini, ditambah kondisi kesehatannya sekarang juga kurang baik, yang membuat tenaganya tidak ada.
Setelah beberapa saat melamun, akhirnya ada seseorang yang masuk ke ruangan tempat Gregor di kurung.
Orang itu sangat tinggi sekitar 180 cm. Dia mengenakan seragam militer Inggris Raya dengan pangkat di kerahnya menunjukkan kalau dia berpangkat brigadir letnan. Dilihat dari kumis kotak dan wajahnya yang sedikit keriput dengan luka goresan pedang di pipi kanannya menunjukkan bahwa usianya sekitar 47 tahun.
Namanya adalah William Tandey, tertera di dada kirinya. Tandey duduk di hadapan Gregor. Dia menatap Gregor dengan tatapan yang sangat mengerikan. Tak lama kemudian dia mulai tersenyum lebar seperti orang gila, membuat Gregor merinding dan ketakutan.
Brouuuuk! Tandey naik ke atas meja lalu menendang Gregor ke samping dengan sangat keras sampai dia terjatuh bersama kursinya. Setelah menjotos Gregor, Tandey melanjutkannya dengan menginjak tubuh Gregor sampai berdarah sebagian.
Darah Gregor yang keluar dari luka di telinganya membuat sepatu yang dikenakan Tandey menjadi kotor di bagian tapaknya. Hal itu membuat Tandey menjadi semakin gila. Dia lanjut menghantamkan kakinya ke perut Gregor sampai dia muntah darah.
Setelah menghajar Gregor, Tandey mulai bicara pada Gregor dengan nada tinggi. “Oi-oi-oi, tuan Gregor si bajingan penentang negara. Kenapa kau tidak menyelamatkan pangeran Stuward, ha…?”
“Kau dokter tidak berguna. Kau lebih memilih anak kecil yang tidak ada gunanya bagi negara dari pada pangeran Stuward yang merupakan penerus kerajaan.”
Tandey kembali menendang Gregor sampai dia berteriak keras sebelum menegakkan kursi Gregor kembali, lalu melayangkan pukulan ke dagu Gregor.
“Apakah kalian para antek-antek raja sudah bukan manusia? Anak itu masih memiliki kehidupan yang cerah dan dia juga berhak untuk hidup dan bukan hanya keluarga bangsawan saja yang berhak untuk hidup. Kalian hanya dimanfaatkan penguasa untuk mengamankan kekuasaan mereka. Lagi pula banyak rakyat Irlandia sendiri tidak menyukai pusat.”
“Dasar komunis (melayangkan pukulan), Beraninya kau menghinaku.”
“Kalian para komunis tidak berhak hidup di dunia ini.”
Setelah mengucapkannya, Tandey kembali melayangkan pukulan ke Gregor sekali lagi.
“Kalian hanya memikirkan kepentingan elit negara tanpa memikirkan nasib para buruh dan tani.”
“Diam kau dasar kaum kiri bodoh.” (Tandey mencekik leher Gregor) ideologi kalian sangat utopis dan tidak realistis.”
Kalian berjanji akan membawa kesetaraan bagi semua kalangan masyarakat tanpa kelas, tapi dalam praktiknya yang terjadi justru sebaliknya.”
“Lihatlah peristiwa kelaparan Soviet 1921 sebagai bukti nyata kegagalan ideologi kalian. Ideologi kalian hanyalah mimpi basah.”
”Dari pada kalian para nasionalis yang mengekang rakyatnya untuk tunduk pada negara dan para elit. Mereka yang Yahudi, diduga Yahudi. Kalian rasisi mereka dan menganggap mereka binatang. Tak jarang juga kalian menghilangkan nyawa Yahudi yang tak tau apa-apa. Kalian memang kejam.”
Gregor sedikit mengeluarkan air mata.
“Argggh!” Tandey melayangkan pukulan ke dagu Gregor.
“Jika aku tidak ditugaskan untuk mengumpulkan informasi, aku sudah membunuhmu dari awal perdebatan ini.”
Tandey menenangkan diri lalu lanjut berbicara kembali.
“Huffff…”
“Dengar aku. Aku akan mengeksekusimu, jika kau tidak membeberkan semua informasi yang kau tau tentang rencana dan persembunyian para Yahudi Inggris dan alasan mengapa kau tidak menyelamatkan pangeran Stuward setelah kita kembali ke Eropa.”
“Sekarang kita ada di Batavia, Hindia Belanda jika kau lupa. Sebaliknya jika kau memberi tau semua informasi yang kau tau, kau tidak akan dieksekusi. Jadi sekarang ceritakan semua yang kau tau!”
Tandey mengucapkannya sambil menunjuk-nunjuk dahi Gregor. Setelah diancam eksekusi keberaniannya Gregor mulai goyah, terlebih karena orang yang mengancamnya adalah aparat negara yang sudah pasti tidak berbohong.
Dalam benaknya dia sangat takut jika dieksekusi. Bukan karena takut kehilangan keluarga atau kerabatnya, tapi takut dengan rasa sakit dan wujud dari kehidupan selanjutnya yang belum dia ketahui seperti apa bentuknya.
“Ba-baiklah. Aku akan membeberkan semua informasi yangku tau padamu. To-tolong, jangan eksekusi aku (Gregor mulai menangis). Aku masih ingin bertemu keluargaku. Aku akan melakukan apa pun yang kau perintahkan padaku, aku kalah darimu. Tolong ampuni aku.”
Tandey tampak tidak memedulikan permohonan Gregor. Dia malah kembali menendang Gregor lalu menarik kerah bajunya dengan sangat kasar.
“Kau sangat bodoh, sampai-sampai kau merendahkan harga dirimu sendiri hanya untuk meminta ampunan (Tandey menghantamkan kakinya ke perut Gregor sampai dia muntah darah).”
“Dasar makhluk rendahan (Tandey melayangkan tinjunya ke dada Gregor). Aku heran kenapa ibumu membesarkan sampah seperti ini.”
“Aku juga yakin kau meminta ampunan padaku hanya karena kau takut pada rasa sakit dan yang kau katakan barusan kalau kau masih ingin bertemu keluargamu adalah sebuah kebohongan agar aku mengasihanimu kan?”
“Te-tentu saja. Ti-idak. Tu-tuan.”
Gregor menjadi gagap karena ketakutan. “Cuih (Tandey meludah ke wajah Gregor). Lupakan itu, sekarang ceritakan semua yang kau tau!”
Sebenarnya Gregor hanya mengarang semua informasi yang dia beberkan pada Tandey. Karena dia tidak mau menghianati teman-teman seperjuangannya. Tapi, ada hal yang tidak dia ketahui tentang rencana Tandey.”
Gregor berhasil mengelabui Tandey…
***
“Akhirnya aku bisa pulang ke rumahku di Irlandia Setelah lama menjadi buronan negara.”
Gregor mendekat ke pintu rumah lalu mengetuknya, tapi tidak ada yang membalas atau membukakan pintu, dia sudah mengetuk berkali-kali tapi tetap tidak ada respons.
Gregor mulai panik memikirkan keadaan keluarganya, karena itu dia mencoba membuka paksa pintu rumahnya. Setelah beberapa saat berusaha membobol pintu rumahnya sendiri akhirnya dia berhasilnya dan alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan.
“Agrhaaaaaaa, ghaaa, haaaaaaa, kha-kha-kha. Istriku. Anak-anakku!!” Istri dan kedua anak Gregor mati mengenaskan. Mereka termutilasi sebagian.
Sang istri di gantung di dinding dengan tali yang mengikatnya. Kedua anaknya juga mengalami nasib serupa, tapi bedanya tubuh merela dibakar.
Gregor hanya bisa menangis kencang tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia menangis-menangis dan terus menangis bahkan dia sampai mencungkil kedua bola matanya karena tak kuasa melihat pemAndangan yang sangat mengerikan di hadapannya, membuat darah yang mengalir dari lubang matanya menggantikan air mata yang seharusnya keluar.
“Oi. Berisik, bajingan.” Ucap seseorang di belakangnya. Doooor!! Dooor !Door !Dor!
“Kau komunis Yahudi, memang sudah pantas mendapatkan ini. Dasar bajingan!”
Seorang pria misterius datang dari belakang, lalu menembak kepala Gregor berulang kali dengan revolver.
Ekspresinya seperti orang tidak bersalah, begitu juga dengan tindakannya yang langsung pergi meninggalkan rumah Gregor setelah mengumpat, seperti tidak ada yang terjadi hari ini.
Sepertinya, dia sudah dilindungi hukum yang korup, jadi bisa sesantai itu. Di sisi lain, darah Gregor yang berceceran dilantai membuat lantai dirumahnya semakin merah merona karena darah yang sangat segar keluar dari kepala Gregor lalu bercampur dengan darah Istrinya yang malang. ***
Rasisme bisa berujung pada tindakan tidak terpuji dan jauh dari jalan Allah. Sekalipun Anda melakukannya tidak secara fisik, Rasisme juga bisa menyebabkan mental seseorang turun drastis dan berujung bunuh diri. Jadi, stop tindakan Rasisme di lingkungan sekolah, masyarakat, atau dimanapun kita berada demi terhindar dari sifat egois dan sombong.






