Sastra

CERPEN: Janji di Ujung Doa Maulana

KABATerkini.com
×

CERPEN: Janji di Ujung Doa Maulana

Sebarkan artikel ini

Oleh. Andika Sutra, S.Pd.

Di pelosok desa yang diselimuti kabut pagi bernama Mekarsari, hiduplah seorang pemuda bernama Maulana. Namanya berarti ‘pelindung’ atau ‘tuan kami’, sebuah gelar agung yang terasa berat jika disandingkan dengan nasibnya yang jauh dari kemuliaan.

Bagi warga Mekarsari, Maulana adalah lambang ketidakberuntungan. Bukan karena ia malas, justru ia adalah pemuda yang paling rajin, tetapi seolah ada tirai takdir yang sengaja menutup setiap jalan yang ia coba lalui.

Mimpi Maulana bukanlah tentang gemerlap lampu kota, melainkan tentang ketahanan. Ia bermimpi menjadi ahli bangunan, merancang rumah-rumah warga desa yang kokoh, tiang-tiang balai pertemuan yang tidak mudah lapuk, dan saluran irigasi yang presisi agar sawah tidak lagi kekeringan.

Ia telah belajar secara otodidak, membaca buku-buku konstruksi bekas yang ia dapat dari pasar kecamatan. Setiap kali ada proyek pembangunan di desa, Maulana selalu menjadi yang pertama menawarkan diri. Namun, hasilnya selalu nihil.

Tiga kali ia mencoba membangun jembatan kecil di sungai desa, tiga kali pula jembatan itu ambruk diterjang banjir bandang—padahal ramalan cuaca mengatakan kemarau.

Ketika ia mencoba menanam bibit unggul di lahan warisan, hama yang aneh menyerang hanya di petaknya, sementara sawah tetangga panen melimpah ruah. Bahkan, kambing yang ia pelihara dengan kasih sayang untuk modal menikah, dicuri pada malam takbiran, malam yang seharusnya penuh berkah.

“Aku sudah berusaha sekuat tenaga, ya Tuhan. Aku sudah menunaikan semua ikhtiar. Sampai kapan kemalangan ini akan berakhir?” ratap Maulana dalam sujudnya, di musala tua yang dindingnya ia coba perbaiki berkali-kali.

Ibunya, seorang wanita tua dengan tatapan teduh yang selalu menenangkan, jatuh sakit-sakitan. Biaya pengobatan, meski hanya ke puskesmas terdekat, menjadi beban maha berat.

Maulana terpaksa mengubur mimpinya sementara waktu. Ia beralih menjadi kuli panggul di pasar desa, mengangkat karung beras dan hasil bumi dari fajar menyingsing hingga azan Magrib berkumandang.

Di punggungnya yang kini dipenuhi bekas luka dan memikul beban puluhan kilogram, ia tak pernah berhenti menggambar. Ketika waktu istirahat tiba, ia akan menarik arang dari sisa kayu bakar dan mulai membuat sketsa di atas tanah lapang. Sketsa tentang bagaimana ia akan merancang rumah ibunya, bagaimana ia akan memperbaiki tandon air desa yang selalu bocor.

Rasa sakitnya kini berlipat ganda: lelah fisik dan kepedihan melihat mimpi yang ia cintai perlahan membeku dalam kelelahan.
Suatu sore, saat pasar sudah sepi dan tetesan gerimis mulai membasahi bumi, Maulana melihat Pak Kyai Hasan, pemimpin rohani desa yang sangat dihormati, sedang berdiri kebingungan di samping tumpukan papan kayu jati yang baru tiba dari kota. Papan-papan itu sangat berharga, ditujukan untuk renovasi total madrasah.

“Ada yang bisa saya bantu, Kyai?” tanya Maulana, seraya meletakkan karung kosongnya.

“Maulana, Nak. Papan-papan ini harus segera diangkat sebelum hujan deras. Tapi tidak ada yang mau membantu, hari sudah petang,” kata Pak Kyai dengan nada pasrah.

Tanpa banyak bicara, Maulana mulai bekerja. Ia mengangkat papan-papan kayu jati yang berat itu satu per satu ke dalam gudang madrasah, tenaganya terkuras habis, tetapi hatinya terasa ringan. Ia melakukannya bukan untuk upah, melainkan karena keikhlasan dan rasa hormat pada ilmu.

Setelah selesai, Pak Kyai Hasan menatapnya lekat-lekat. “Kau pemuda yang kuat dan jujur, Nak. Tapi mengapa kau tidak pernah berhasil dalam usahamu?” Maulana hanya tersenyum getir. “Mungkin Tuhan belum mengizinkan, Kyai. Saya hanya bisa menunggu keajaiban-Nya.”

Pak Kyai tersenyum bijak. “Keajaiban tidak selalu datang seperti petir yang menyambar, Nak. Kadang ia datang dalam bentuk mata yang melihat ketulusanmu.”

Nasihat itu melekat. Maulana kembali fokus pada pekerjaannya sebagai kuli. Namun, ia tidak sekadar memanggul barang. Ia mulai mengamati konstruksi gerobak yang ia gunakan, memperbaiki porosnya agar lebih efisien, dan bahkan merancang tempat penyimpanan barang di pasar agar lebih tertata.

Ia menggunakan ilmu arsitekturnya di tingkat yang paling mendasar. Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa Bapak Haris, seorang pengusaha sukses yang berasal dari Mekarsari, akan kembali untuk mendanai pembangunan Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM) terbesar di desa itu, lengkap dengan ruang pertemuan dan perpustakaan. Bapak Haris menghubungi Pak Kyai Hasan, meminta rekomendasi untuk kepala pelaksana proyek yang jujur dan punya visi.

“Saya punya satu nama, Haris. Dia mungkin sering gagal, tapi dia punya hati sebersih embun dan tekad sekuat baja. Namanya Maulana,” ujar Pak Kyai Hasan.

Pak Haris datang menemui Maulana di pasar. Ia tidak melihat seorang kuli panggul, tetapi seorang pemuda yang sedang asyik memperbaiki engsel pintu gudang yang rusak, karyanya sangat rapi. Setelah berbincang dan melihat sketsa-sketsa Maulana di atas tanah, Pak Haris terkejut.

“Maulana, kau punya bakat luar biasa. Kenapa kau menjadi kuli?” tanyanya.

Maulana menceritakan semua rentetan nasib buruknya dengan suara parau namun tegar.

“Nasib burukmu, kegagalan-kegagalanmu, adalah ujian fondasi, Nak,” kata Pak Haris, tersenyum.

“Kau tetap berdiri tegak. Sekarang, aku menunjukmu sebagai manajer konstruksi PKM ini. Aku tidak butuh orang yang beruntung, aku butuh orang yang tahan banting.”

Air mata Maulana jatuh membasahi tanah, bercampur dengan debu pasar. Ini bukan sekadar proyek, ini adalah jawabannya. Keajaiban itu datang bukan dari langit yang membelah, melainkan dari ujian kesabaran yang ia lalui. Kegagalan-kegagalan itu ternyata hanya proses tempaan.

Maulana berdiri, menatap matahari terbenam di balik sawah. Ia akhirnya mengerti, rezeki dan keajaiban dari Tuhan tidak selalu berupa kemudahan. Sering kali, keajaiban terbesar adalah kekuatan yang ditanamkan Tuhan di dalam jiwa, agar kita mampu bertahan ketika semua hal di luar diri kita runtuh. Ia sudah berhenti menunggu. Ia sudah menjadi keajaiban itu sendiri.***

Tanjung Lolo, 7 Desember 2025

Bionarasi Penulis:

Andika Sutra merupakan pemuda asal Nagari Tanjung Lolo yang bercita-cita menjadi dosen dan memiliki hobi menulis. saat ini Andika bekerja di SMKN 4 Sijunjung dan juga di PKBM Nurul Ihsan Tanjung Gadang. Ia berharap bait demi bait, kalimat demi kalimat yang ia tulis, selalu menjadi inspirasi bagi orang lain.