Opini

Rekontruksi Mangrove di Batam Bagai Menggali Lubang Tutup Lubang

KABATerkini.com
×

Rekontruksi Mangrove di Batam Bagai Menggali Lubang Tutup Lubang

Sebarkan artikel ini

Oleh - Atika Yudistira (Mahasiswa Universitas Andalas Padang)

Batam, Kepulauan Riau, pulau berkedok kota. Batam membentuk pulau yang dihimpit oleh lautan dan Pantai. Ibarat terjadi gempa disusul tsunami kecil, mungkin kota ini hanya tinggal sejarah saja.

Ungkapan kasar tersebut bukan tanpa alasan, karena memang Batam hanya pulau dengan gedung – gedung tinggi di pusat kota yang kini mulai menjarah ke tepian. Membabat habis Mangrove yang tumbuh untuk menahan abrasi Pantai demi pembangunan adalah aksi fatal.

Mangrove hadir untuk meredam energi gelombang besar Laut dan Pantai, tetapi ditebang habis tanpa berpikir panjang. Itulah yang dilakukan pihak industri demi untung semata tanpa khawatir akan keselamatan pulau Batam. Para nelayan Kepiting Bangkang dan Udang pun harus menjadi korban sumber mata pencarian karena ulah industri.

Sekitar 35 tahun yang lalu Batam sempat memiliki luas lebih dari 18.000 hektare wilayah yang ditanami Mangrove, setara 27% luas kota Batam. Bayangkan sekarang hanya tersisa setengah dari angka tersebut menurut Peta Mangrove Nasional (PMN) 2025.

Hutan Mangrove memiliki peran penting dalam memelihara ekosistem pesisir, rumah bagi banyak hewan seperti ikan – ikan kecil, udang, kepiting, hingga bentos. Ketika Mangrove di babat habis berapa banyak hewan yang harus kehilangan rumah. Hal ini juga berdampak pada keseimbangan ekosistem pesisir karena kehilangan peran Mangrove yang penting di kawasan Pantai tersebut.

Hutan yang menjadi pelindung kota Batam tersebut harus di gerus habis demi proyek – proyek skala besar bahkan ada yang barlabelkan ‘proyek strategis nasional’. Batam mendapati kerusakan wilayah mangrove terjadi hampir di seluruh Kepulauan Riau, khususnya di Batam disebabkan reklamasi, industrialisasi, dan permukiman massif, termasuk juga, pembangunan waduk.

Yang nyata saja, di pesisir Kampung Panau Nongsa, Kota Batam, Pendiri Akar Bhumi Indonesia menemukan hutan Mangrove seluas delapan hektar telah dimakan habis untuk pembangunan pabrik baja. Beberapa waktu belakangan ini, di kawasan ini sedang terjadi reklamasi besar-besaran. Mangrove tertimbun, laut rusak dan banyak nelayan terdampak.

Parahnya reklamasi yang dilakukan tanpa pengawasan yang ketat dari pihak berwenang, dilakukan secara asal – asalan dan tidak rapi. Bahkan menyisakan dampak baru ke lingkungan tanpa sadar. Seperti keruhnya air laut karena abrasi Pantai sedikit demi sedikit ketika alat berat bekerja untuk menebang pohon Mangrove tersebut. Hal ini menimbulkan masalah baru tanpa disadari. Mungkin lama kelamaan akan terkikis sempurna bahkan sebelum Pembangunan berhasil dilakukan.

Baca Juga  Sekolah Kesetaraan: Menjembatani Kesenjangan, Meraih Asa Pendidikan

Sepanjang tahun belakangan ini kerusakan semakin terlihat nyata. Beberapa wilayah titik pesisir seperti Sagulung dan Piayu mengalami aktivitas cut and fill dimana membabat mangrove dan menimbun lahan yang menghilangkan fungsi penting Mangrove sebagai penahan abrasi Pantai.

Tekanan Pembangunan dan aktivitas illegal lainnya terjadi dengan nyata di pesisir Batam masih menjadi tantangan bagi sejumlah pihak. Terutama pihak yang peduli akan konservasi. Banyak pihak yang berusaha memperbaiki lahan yang rusak tersebut, dalam berbagai macam upaya seperti penyegelan hingga rehabilitasi. Upaya tersebut tidak sebanding dengan kerusakan yang sudah terjadi.

Pengawasan tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak aparat, butuh tenaga lain seperti ahli konservasi lahan, ahli ekologi, kerjasama masyarakat, berbagai macam komunitas pecinta lingkungan dan alam.

Berbagai tindakan dilakukan untuk mengembalikan hutan yang rusak tersebut. Bahkan banyak pihak menyelenggarakan upaya pemulihan dengan cara menanam kembali bibit Mangrove di sepanjang pesisir Pantai. Tetapi usaha penanaman terkadang tidak sebanding dengan kegiatan penebangan di area lain. Jadi hanya seperti menggali lubang dan menutup lubang.

Seperti judul di atas, memadamkan bara dengan minyak, aksi kebaikan, aksi pemulihan, aksi rekontruksi Mangrove ini tidak terlihat signifikan jika masih ada kegiatan menebang di area lain yang jauh lebih besar.

Aksi rehabilitasi mangrove banyak dilakukan dalam berbagai cara. Mulai dari membeli 1 kaos gratis 1 pohon Mangrove yang ditanami. Hingga aksi menanam Mangrove yang dilakukan bersama. Tetapi upaya tersebut tidak sebanding dengan terjadi reklamasi yang merusak pesisir dan hutan Mangrove di Pesisir. Dimana sekali kegiatan bisa menimbun lahan hingga 3 hektare.

ABI, Kementrian Lingkungan Hidup menduga bahwa aksi penimbunan tersebut sedikitnya melanggar empat regulasi lingkungan hidup. Sampai saat ini belum di ketahui siapa dalang dibalik aksi tersebut.

Walikota Batam, Amsakar Achmad, berjanji akan menindak lanjuti tindakan illegal tersebut dan akan menurunkan petugas untuk memeriksa izin reklamasi tersebut.

Konsep pemikiran untuk cinta akan lingkungan yang semakin memprihatinkan penting untuk ditanamkan. Menanamkan konsep tersebut kepada warga Batam dan pihak – pihak terkait sangat besar dampaknya terhadap alam sekitar. Konsep penanganan yang dapat dilakukan dalam melakukan pelestarian hutan Mangrove di Pesisir Kota Batam ini adalah dengan membuat Integrated Mangrove Education Corner (IMEC).

Ide ini merujuk pada bagaimana suatu kawasan Mangrove dijadikan tempat edukasi mengenai pentingnya rehabilitasi. Sasaran umurnya bisa siapa saja dan dari berbagai macam kalangan. Kegiatan tersebut berisi apa yang terjadi dengan hutan Mangrove penyelamat absrasi Pantai di Batam saat ini, bagaimana cara menanam pohon Mangrove, apa dampak satu pohon yang ditebang dan satu pohon yang ditanami.

Baca Juga  Pecah Rekor! Pengunjung Karya Nyata Fest Vol.6 Pekanbaru Persembahan BUMN Pertamina Capai 30.000 Orang

Disisi lain para nelayan juga kehilangan mata pencaharian akibat hilangnya hutan Mangrove. Hasil tangkapan mereka turun drastis, yang mana berdampak pada ekonomi mereka. Keluhan di antaranya datang dari masyarakat Kampung Setenger, Tanjung Piayu, Batam. Penimbunan di kawasan Mangrove menyebabkan dua alur sungai tertutup, dan pendapatan nelayan menurun. Dampak lain dari pembabatan hutan Mangrove juga menyebabkan air Pantai keruh dan kelong yang dangkal, menyebabkan banyak ikan – ikan mati.

Para nelayan mengatakan hasil tangkapan sekarang hanya cukup untuk dikonsumsi secara pribadi. Nelayan menyebutkan bahwa para pelaku kerusakan sempat memberikan uang ganti rugi ke setiap kepala keluarga nelayan, tetapi menurut mereka itu tidak cukup untuk menutupi kerugian mereka.

Kendati demikian masih belum terlambat untuk menyelamatkan pulau Batam dari kerusakan lebih lanjut. Masih banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kerusakan yang sudah terjadi. Tetapi memang harus lebih ekstra dan lebih tegas lagi kepada pelaku – pelaku tidak bertanggung jawab yang malah lebih mementingkan satu pihak ketimbang banyak nyawa di pulau itu.

Masyarakat Batam harus lebih sering lagi untuk diberikan edukasi mengenai pentingnya melakukan rehabilitasi mangrove. Selain itu, ketegasan terhadap pihak – pihak industri beserta regulasi – regulasi terkait jika terjadi pelanggaran harus ditindak lanjut dengan sangat serius agar mereka lebih patuh dan teratur.

Lebih cepat memulihkan lebih cepat juga para nelayan kembali mendapatkan mata pencarian mereka. Bukan tanpa alasan pemulihan dilakukan dengan satu tujuan besar yaitu menyelamatkan pulau Batam yang hampir tenggelam. Kepentingan industri tidak bisa didahulukan daripada kepentingan banyak nyawa yang terancam nyata. Lagian juga kalau Batam tenggelam semua industri juga ikut merasakan kerugian besar. ***

BIONARASI PENULIS

Nama          : Atika Yudistira
Lahir           : Batam, 20 Oktober 2004
WhatsApp  : 087847465687
Intagram    : @atikayudistira
Pendidikan: Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas Padang
Email          : atikayudistira1230@gmail.com