JAKARTA, KabaTerkini.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memuji kekompakan pemerintah daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam menangani dampak banjir dan longsor.
Ia menilai Sumbar menjadi contoh baik dalam penanganan pascabencana berkat koordinasi yang solid antarinstansi.
“Saya terus terang saya hormat betul kepada Pak Gubernur, dan segenap Forkopimda-nya. Karena kekompakan sangat luar biasa sekali,” kata Tito dalam rapat penanganan pascabencana Sumatera, Kamis (15/01/26).
Tito mengungkapkan, Gubernur Sumbar bersama Forkopimda rutin menggelar rapat koordinasi dua kali sehari yang melibatkan Panglima Komando Daerah Militer, Kepala Kepolisian Daerah, Komandan Resor Militer, unsur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan Angkatan Laut, serta Kepala Kejaksaan Tinggi.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Sumbar memiliki sistem pemantauan berbasis dashboard yang terhubung langsung dengan para bupati dan wali kota.
“Beliau punya dashboard yang sudah disiapkan sebelumnya. Padahal dashboard-nya bukan untuk bencana,” ujar Tito. Ia bahkan berseloroh, “Jangan-jangan Bapak sudah tahu mau bencana sehingga buat dashboard itu.”
Berkat koordinasi tersebut, dari 16 daerah terdampak bencana, kini hanya tersisa empat wilayah yang masih memerlukan perhatian serius, yakni Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan. Tito memastikan seluruh pemerintahan kabupaten di Sumbar tetap berjalan normal.
“Good news-nya adalah semua pemerintahannya normal. Kabupaten enggak masalah,” tutur mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia itu.
Di sektor kesehatan, seluruh Rumah Sakit Umum Daerah di Sumbar telah kembali beroperasi normal.
Namun, beberapa Pusat Kesehatan Masyarakat dan Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu masih terdampak, terutama di Kota Padang, Padang Pariaman, dan Agam.
Sementara itu, sektor pendidikan menjadi tantangan terbesar karena banyak Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, madrasah, hingga pondok pesantren mengalami kerusakan.
Tito juga mencatat gangguan akses jalan darat dan jembatan di sejumlah daerah, meski beberapa wilayah seperti Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan, dan Kota Payakumbuh relatif aman dari dampak bencana.
“Yang aman ini tiga ini. Saya alhamdulillah ini,” kata Tito. (*/002)






