Aisyah pertama kali mengenal Fahri bukan melalui sapaan biasa, melainkan dari panggung intelektual di Aula Kampus. Hari itu lomba debat antar fakultas berlangsung dengan penuh semangat. Sorot lampu, tepuk tangan penonton, dan suara moderator menyatu dalam suasana menegangkan. Aisyah berdiri dengan penuh keyakinan, menyampaikan argumennya dengan runtut dan tegas. Di hadapannya, Fahri berdiri tenang, menyusun kata demi kata dengan kecerdasan yang memikat.
Sejak hari itu, Fahri menjadi nama yang diam-diam menetap di hati Aisyah. Ia mengagumi Fahri bukan semata karena kepintarannya. Aisyah tertarik oleh cara berpikirnya, ketampanannya yang sederhana, serta ketekunannya dalam belajar dan berorganisasi. Namun yang paling menggetarkan hatinya adalah ketaatan Fahri yang selalu terjaga, adabnya yang lembut, dan lisannya yang tertata.
Aisyah memilih mengagumi Fahri dalam diam. Ia tidak pernah mengungkapkan nama itu kepada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri. Baginya, perasaan adalah amanah yang harus dijaga, bukan untuk diumbar, apalagi dipaksakan. Ia percaya, jika Allah berkehendak, maka perasaan itu akan diarahkan pada jalan yang halal dan diridhai. Namun jika tidak, Allah pula yang akan mengajarkannya cara melepaskan dengan lapang, tanpa menyalahkan takdir dan tanpa menyisakan luka yang berlebihan.
Hari-hari perkuliahan berlalu begitu cepat, seolah waktu berlari tanpa memberi kesempatan untuk berhenti. Mereka beberapa kali bertemu dalam forum akademik, diskusi ilmiah, dan lomba debat antar fakultas. Setiap pertemuan selalu singkat, sebatas keperluan, tanpa usaha untuk mendekat. Sesekali mereka berpapasan di masjid kampus, saling menundukkan pandang, menahan kata, lalu berlalu tanpa janji dan tanpa isyarat apa pun. Dalam diam itu, Aisyah belajar menata hati, menimbang rasa, dan menjaga batas yang telah ia tetapkan.
Aisyah mengira waktu akan memberi jawaban. Namun waktu justru membawa jarak. Hingga masa kelulusan tiba, Fahri lulus lebih dulu. Ia melangkah pergi, melanjutkan hidupnya di luar kota, membawa serta kekaguman yang tak pernah sempat menjadi kisah. Tidak ada perpisahan, tidak ada pengakuan, hanya kabar yang sampai tanpa suara.
Selepas kuliah, Aisyah memilih jalan hidup yang sederhana dan bermakna. Ia menjadi guru di sebuah sekolah, jauh dari dunia debat ilmiah. Setiap pagi, ia menyambut anak-anak dengan senyum, mendengarkan cerita polos mereka, dan mengajarkan huruf demi huruf dengan penuh kesabaran.
Mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.
Aisyah menyukai anak-anak. Kepolosan mereka, tawa yang jujur, dan doa-doa kecil yang sering terucap tanpa sadar membuat Aisyah merasa dekat dengan rahmat Allah. Di antara suasana gaduh kelas dan coretan kapur di papan tulis, ia belajar arti ikhlas, sabar, dan kasih sayang yang tulus.
Namun, di balik kesibukannya mengajar, ada malam-malam sunyi yang masih menyimpan tanya. Di sepertiga malam, Aisyah bersujud lebih lama. Kadang nama Fahri terlintas, bukan sebagai tuntutan, melainkan kenangan yang belum sepenuhnya reda.
Suatu sore, saat hujan turun pelan, Aisyah membuka media sosialnya. Jemarinya berhenti pada sebuah unggahan yang membuat dadanya sejenak sesak. Foto Fahri terpampang jelas, tersenyum di samping seorang perempuan dengan balutan busana pengantin. Ketenangan singgah tertulis penuh syukur dan doa. Fahri telah menikah.
Aisyah menatap layar itu lama. Tidak ada air mata yang langsung jatuh, hanya diam yang panjang. Hatinya terasa nyeri, namun hatinya tidak hancur. Ia menarik napas dalam, menutup ponsel, lalu memeluk dirinya sendiri. Malam itu, ia menangis dalam sujud menangis yang jujur, bukan penuh protes.
“Ya Allah,” bisiknya,
“ternyata Engkau benar-benar menutup pintu itu.”
Tangis itu bukan tanda kalah, melainkan tanda menerima. Aisyah sadar, apa yang selama ini ia simpan hanyalah kekaguman. Fahri bukan miliknya, dan tak pernah ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Allah hanya menitipkan asa, lalu mengambilnya kembali, dengan cara yang lembut.
Ibunya berkata pelan ketika melihat mata Aisyah sembab, “Nak, ketika Allah menjauhkan, itu karena Dia sedang menjaga.”
Sejak hari itu, Aisyah tidak lagi menyebut nama Fahri dalam doanya. Ia menggantinya dengan doa agar hatinya dikuatkan, dan langkahnya diarahkan pada jalan yang diridai-Nya.
Ternyata Allah mempertemukan dengan cara yang begitu indah, sebagai pengganti Fakhri yang pernah singgah di hati. Hari itu, Aisyah tidak pernah menyangka bahwa pertemuan sederhana dapat membawa getaran yang begitu berbeda. Seorang lelaki datang ke sekolahnya untuk mengantarkan berkas milik adiknya, Aini sahabat dekat Aisyah yang juga mengajar di sekolah swasta. Lelaki itu bernama Raziq, kakak kandung Aini, yang bekerja sebagai Bendahara yayasan di sebuah sekolah swasta tak jauh dari tempat Aisyah mengabdi. Usia mereka terpaut lima tahun. Raziq telah lama berniat menikah, namun belum menemukan sosok yang membuat hatinya benar-benar mantap.
Namun siang itu terasa berbeda. Tatapan Raziq tertahan pada Aisyah. Bukan semata karena parasnya yang cantik, melainkan karena kelembutan sikap dan keteduhan yang terpancar dari dirinya. Ada rasa hangat yang sulit ia jelaskan, seolah hatinya disentuh tanpa diminta. Raziq pulang dengan pikiran yang terus tertuju pada satu nama.
Malam harinya, dalam suasana yang sunyi, Raziq bertanya kepada adiknya yaitu Aini tentang Aisyah. Ia heran mengapa perasaannya begitu tersentuh oleh perempuan yang baru ia temui. Aini menjelaskan dengan jujur bahwa Aisyah adalah sosok perempuan yang lembut, cerdas, cantik, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
“Apakah dia sudah menikah?” tanya Raziq pelan.
“Belum, Bang,” jawab Aini.
Mendengar itu, Raziq menyampaikan niat baiknya. Jika memang belum, ia ingin bertaaruf dan melangkah dengan cara yang Allah ridhoi.
Keesokan harinya, Aini menyampaikan niat tersebut kepada Aisyah. Mendengarnya, Aisyah tertunduk malu. Di lubuk hatinya, ia merasakan ketenangan yang sama saat memandang Raziq sosok lelaki dengan jiwa pemimpin, pelindung, penyayang, dan penuh tanggung jawab. Namun Aisyah belum mampu memberi jawaban.
Di sepertiga malam, dalam sunyi yang paling jujur, Aisyah menengadahkan doa.
Ia menyerahkan seluruh perasaannya kepada Allah, memohon agar diberi pilihan terbaik. Ia tidak ingin lagi berharap pada manusia, hanya pada Sang Pemilik hati.
Sejak malam itu, hati Aisyah terasa lebih lapang. Ia memilih diam bukan karena menolak, melainkan ingin memastikan setiap langkahnya berada dalam ridha Allah. Beberapa hari kemudian, Aini kembali menemuinya dan menyampaikan bahwa Raziq serius serta berniat baik. Ia tidak mendesak, hanya berharap diberi kesempatan untuk mengenal Aisyah dengan cara yang terhormat.
Aisyah pun mengangguk pelan.
“InsyaAllah, jika niatnya karena Allah, aku bersedia ta’aruf.”
Pertemuan mereka berlangsung sederhana bersama keluarga. Raziq tidak banyak memuji, ia lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab, visi hidup, dan harapannya membangun rumah tangga berlandaskan iman. Aisyah mendengarkan dengan hati yang semakin tenang, merasakan kesungguhan yang tulus.
Beberapa pekan kemudian, Raziq datang melamar. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan kesiapannya memikul amanah sebagai imam. Aisyah menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Jika ini jalan yang Allah ridhoi, aku bersedia,” ucapnya lirih.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun penuh keberkahan. Saat ijab kabul terucap lancar, air mata Aisyah jatuh air mata syukur. Allah tidak hanya menyembuhkan lukanya, tetapi menggantinya dengan ketenangan.
Raziq memperlakukan Aisyah bukan sekadar sebagai istri, melainkan amanah dari Allah. Ia menyayangi dengan tenang, menjaga tanpa menuntut, dan selalu menghadirkan rasa aman. Dalam kesederhanaannya, Aisyah menemukan cinta yang utuh dan penuh ridha.
Dan Aisyah pun tahu, Allah tidak pernah terlambat. Ia hanya menunggu hati siap menerima yang terbaik.
Aisyah pun menulis di buku hariannya:
“Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dia menutup satu jalan agar aku tidak tersesat, lalu membuka jalan lain yang mengantarkanku pulang kepada ketenangan.
Kini Aisyah yakin sepenuhnya:
Bahwa Allah tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, melainkan apa yang Allah ridhai untuk kita. Ada keinginan yang tampak indah, namun bisa menjauhkan hati dari tenang dan iman. Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya, bahkan sebelum doa terucap. Dia menutup satu jalan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menjaga. Dia menunda langkah, mengganti harap, bahkan mengambil kembali mimpi, sebagai bentuk kasih yang sering tak kita pahami. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di sisi-Nya. Namun apa yang Allah ridhai pasti membawa kebaikan, meski jalannya sederhana dan sunyi. ***

PENULIS
Geni Dewita Sari S.Sos, Gr. Guru Antropologi SMA Swasta Banuhampu, Alumni Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas 2015







