Di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan ekonomi nasional maupun daerah, Bank Nagari tetap menunjukkan kinerja yang relatif solid dengan total aset mencapai Rp 33,61 triliun, tumbuh 1,97 persen dibandingkan Desember 2024 (unaudited).
Hasil kinerja 2025 tersebut dipaparkan oleh Direktur Utama (Dirut) Bank Nagari, Gusti Candra didampingi jajaran direksi, Komisaris Utama, Andri Yulika, dan jajaran komisaris, Dewan Pengawas Syariah (DPS), Pemimpin Divisi dan Kepala Cabang di lingkungan Bank Nagari.
Di hadapan pimpinan media se-Sumatera Barat, Gusti menyampaikan, dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan tercatat Rp 25,27 triliun, terkoreksi 1,10 persen secara tahunan.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh belum optimalnya permintaan kredit seiring melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat sepanjang 2025.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dihimpun sebesar Rp 26,84 triliun, tumbuh 0,58 persen. Pertumbuhan DPK dinilai tetap terjaga meski masyarakat cenderung menggunakan tabungan untuk kebutuhan konsumsi, dengan tetap memperhatikan keseimbangan likuiditas melalui optimalisasi Loan to Deposit Ratio (LDR).
Dari sisi profitabilitas, Gusti menambahkan, laba bersih Bank Nagari tahun 2025 tercatat Rp 493,74 miliar, mengalami kontraksi 8,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan laba dipengaruhi oleh belum tumbuhnya kredit sebagai sumber utama pendapatan operasional serta kondisi ekonomi yang menantang
Di satu sisi, di tengah tekanan tersebut, Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Nagari justru menunjukkan kinerja yang impresif. Total aset syariah mencapai Rp 6,49 triliun, tumbuh 6,28 persen.
Gusti menyebut, pembiayaan syariah meningkat signifikan menjadi Rp 4,63 triliun atau tumbuh 14,66 persen, sementara DPK syariah tercatat Rp 4,91 triliun, tumbuh 3,62 persen.
Kemudian, laba setelah pajak UUS Bank Nagari juga meningkat menjadi Rp224,62 miliar, tumbuh 15,43 persen. Kontribusi aset UUS terhadap induk meningkat dari 18,52 persen pada 2024 menjadi 19,31 persen pada 2025, menandakan penguatan bisnis perbankan syariah Bank Nagari.
Rasio Keuangan tetap Sehat
Dari sisi rasio keuangan utama, Bank Nagari mencatat CAR 23,72 persen, jauh di atas ambang batas minimum. ROA 1,89 persen, ROE 12,79 persen, NIM 5,89 persen, dan LDR 94,15 persen menunjukkan fungsi intermediasi bank berjalan dengan baik.
Sementara NPL 2,40 persen masih berada dalam kategori sehat dan BOPO 82,69 persen mencerminkan efisiensi operasional yang tetap terjaga.
Digitalisasi dan Jaringan Layanan
Lebih lanjut Gusti menyampaikan, Bank Nagari juga mencatat pertumbuhan signifikan pada layanan digital. Jumlah pengguna Ollin by Nagari meningkat 57,08 persen menjadi 336.933 user, sementara pembukaan rekening online mencapai 22.312 rekening sepanjang 2025.
Di sisi jaringan, hingga Desember 2025 Bank Nagari memiliki 1.261 jaringan dan layanan, termasuk kantor cabang, ATM, CRM, dan EDC.
Bank Nagari menilai perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh efisiensi belanja pemerintah, penurunan transfer ke daerah, bencana alam di Sumatera Barat, serta penyesuaian kebijakan penyaluran KUR.
Meski demikian, Bank Nagari tetap mampu menjaga kinerja dan meraih 33 penghargaan nasional dan regional sepanjang 2025, termasuk predikat idA /Stable dari PEFINDO dan berbagai penghargaan di bidang kinerja keuangan, layanan digital, serta perbankan syariah.
Sementara itu, Komisaris Utama (Komut) Andri Yulika mengapresiasi kinerja Bank Nagari sepanjang 2025 yang terus tumbuh meskipun Di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan ekonomi nasional maupun daerah.
“Kami tentu di jajaran komisaris kami akan terus menjalankan tugas kami untuk melakukan pengawasan dan mendukung kerja-kerja direksi di 2026,” katanya.
Dewan Pengawas Syariah Bank Nagari, Prof Yasri juga turut mengapresiasi, khususnya kepada Unit Usaha Syariah Bank Nagari yang menunjukkan kinerja yang impresif.
“Kami berharap kinerja bagus yang dilakukan di 2025 bisa dipertahankan atau bahkan ditingkatkan agar kinerja baik itu semakin dirasakan manfaatnya bagi perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (*/002)







