“Mama-mama, liat ini!”
“Iya Soer, apa itu?”
Seorang anak laki-laki yang sangat ceria berlari memeluk ibunya yang sedang memasak di pagi hari dari belakang, lalu menunjukkan wajahnya dari sisi kiri ibunya dan tangan kanannya memegang origami pistol dari kertas yang sudah ia bongkar berulang-ulang sebelumnya dengan sangat bangga.
Si anak merupakan etnis campuran Jawa-Sunda dengan kulit sawo matang, mata coklat, dan rambut hitam ikal yang dipaksakan untuk disisir ke arah kanan oleh Ibunya selama bertahun-tahun, tapi tak pernah benar-benar lurus. Anak itu mengenakan kemeja putih polos yang kerut dan celana pendek cokelat biasa. Sedangkan sang Ibu merupakan etnis Sunda yang memiliki kulit putih, tapi tak seputih orang Tiongkok atau Eropa. Matanya sama coklat gelap, dan dia memiliki rambut hitam panjang yang diikat dengan gaya kucir kuda.
Dia mengenakan kebaya putih dan rok batik ketat berwarna cokelat. Dia juga memakai cincin kawin di jari manis yang ada di tangan kirinya. Dengan pakaian itu, sang Ibu terlihat anggun tapi tetap sederhana.
“Ini Mama, di tangan kananku lihat!”
Sambil terus lanjut menggoreng, sang Ibu melihat ke tangan kiri Soerja yang memegang origami pistol dengan penasaran.
“Wah bagus banget Soerja, kamu belajar dari mana?”
“Ngasal, hihi”
Ibu Soerja menanggapinya dengan senyuman yang penuh kasih sayang. Soerja melihat senyuman Ibunya dengan sangat puas. (Aku akan membuat Ibu senyum setiap hari!).
“Mama, lagi masak apa?”
“Mama, masak masakan favorit kamu, coba tebak apa!”
Soerja berpikir sejenak sembari mendongak sedikit ke atas dan tangan kirinya terus memainmainkan dagunya.
“Hmm, apa ya? Oh ya, kentang pedes ya mamaa?”
“Bener, pinter anak mama”
Kehidupan mereka bisa dibilang bahagia walaupun tanpa kehadiran seorang ayah yang mencari nafkah untuk keluarga. Sebagai pengganti sang ayah, sang ibu harus berjualan bubur untuk mencari nafkah dan terpaksa meninggalkan Soerja di rumah sendirian sampai sesudah isya. Kecuali di hari minggu untuk menemani Soerja, agar tidak sendirian terus di rumah.
Gedoor!
“Angkat tangan!”
(Bro, todong terus wanita itu agar dia patuh!)
(Oke, Velaar)
Sepasang prajurit Belanda mendobrak pintu dapur di belakang rumah Soerja sampai rusak, lalu langsung menodongkan senapannya ke arah ibu Soerja yang membuat Soerja berlindung di belakang ibunya.
Seragam mereka berwarna khaki atau cokelat muda sedikit kekuningan dengan lambang serigala merah NICA di lengan kanan dan lambang kerajaan Belanda di tangan kiri, ikat pinggang kulit hitam, dan sepatu bot hitam yang berlumpur di bagian tapaknya.
Mereka berdua sangat tinggi sekitar 175 sampai 180cm, yang satu berambut blonde dan yang satu berambut coklat tua agak kemerahan dan mereka memasang ekspresi yang sangat serius. Seragam mereka masih rapi tanpa ada kotoran sedikit pun kecuali pada sepatu mereka dan sepertinya mereka sudah berencana untuk menduduki desa tempat mereka tinggal.
“Ma-mama, siapa mereka?”
Sang ibu tidak menjawab pertanyaan Soerja yang dilontarkan dengan ketakutan. Sang ibu menatap mata kedua prajurit NICA itu dengan tatapan seribu yard sambil berusaha menggapai pisau yang terletak di samping kanan kompor dengan tangan kanan yang gemetaran.
“Hey kau, kami tadi melihat salah satu teroris yang kami kejar masuk ke rumah kalian, jadi dimana kau menyembunyikannya?
Cepat jawab!”
Velaar mendekat ke arah ibu Soerja sambil terus mengarahkan moncong senapannya ke kepala sang ibu. Dia terus mendekat selangkah demi selangkah, hingga akhirnya moncong senapan yang dingin itu menyentuh dahi sang ibu, membuatnya semakin gemetaran.
“Cepat, cepat jawab!”
Velaar terus-terusan memaksa sang ibu untuk membeberkan keberadaan prajurit TNI yang Dia tanyakan sedari awal tadi. Tapi walaupun sudah ditodong dengan senapan yang mendarat di dahinya serta keadaannya sudah terpojok dengan tanpa jalan keluar untuk menyelamatkan hidupnya yang sudah di ujung tanduk, ibu Soerja tetap berpegang teguh pada keyakinannya untuk membela pejuang kemerdekaan bangsanya.
Cih, percuma. Wanita ini tak akan menunjukkan tempatnya. Menyakitinya pun bukanlah hal yang terhormat.
(Lalu apa yang harus kita lakukan?)
(Apa kau bodoh Karl? Periks—A’ark)
Tepat saat Velaar menoleh untuk berbicara pada rekannya, tiba-tiba lehernya mengeluarkan darah dengan sangat deras yang mengharuskannya untuk menjatuhkan senapannya dan menahan cucuran darahnya dengan kedua telapak tangannya. Sayangnya dia tidak langsung mati saat menerima sayatan separah itu, yang menyebabkan dia sangat kesakitan sampai membuatnya meronta-ronta di lantai dengan air mata yang bercucuran dengan tidak beraturan.
“Mati kau, mati-matiii… Suami-suamiku mati gara-gara kalian. Haaaaargh. Dasar tak berperikemanusiaan…”
“O-khroaaak-koar’raak”
Sang Ibu terus menghujani Velaar dengan pisau berulang-ulang kali. Di sisi lain, Karl yang melihat rekannya sedang ditusuk langsung menembaki sang ibu secara asal-asalan karena terkejut dan panik melihat keadaan rekannya.
Soerja yang melihat Ibunya membunuh seketika menangis histeris karena ketakutannya dengan darah. Terlebih ia sudah merasa ketakutan sejak kedua prajurit NICA itu datang.
(Aaa, tuhan)
Door ckreing, door ckreing, door ckreing…
“Hyaaaaaa akha-akha, ha. Huaaaaaa…”
Tembak kokang, tembak kokang, tembak kokang, Karl terus menembaki sang Ibu berulang kali. Tapi karena dia sedang panik, dia tidak bisa menembak dengan benar dan gagal mengenai titik fitalnya. Suara tembakan yang acak-acakan itu semakin membuat Soerja merasa ketakutan dan membuatnya mundur dengan panik sampai ke lemari dapur bercat putih di sudut ruangan.
“Hyaaaah…!”
“Huaaa, haaaaa…”
(Ya, tuhan. Aarck)
Sang ibu maju dengan berani membawa pisaunya yang berlumuran darah. Sang ibu menusuk lengan kiri Karl sampai membuat pisau itu tersangkut karena menembus tulangnya.
“Aaah, sial!”
Menyadari satu-satunya senjata yang bisa digunakan telah lumpuh, sang Ibu kemudian mundur sedikit untuk menjaga jarak dari Karl sebelum melancarkan tendangan.
(“Hyiaaaah…” Gdeg)
(Ek, eikhh)
Sang ibu melancarkan tendangannya tanpa mempertimbangkan pertahanan dan serangan balik dari Karl. Alhasil tendangannya gagal mengenai Karl karena berhasil ditahan dengan tangan kirinya, dan dengan sekuat tenaga, Karl menusukkan bayonet atau pisau di moncong senapannya ke dada kiri sang Ibu dan menembaknya dengan tangan kanannya.
Dooor! “Ouk, uk…” Gdbroug!
Sang ibu langsung tewas dan jatuh ke lantai, dengan kepalanya yang pertama mendarat ke lantai setelah menerima tusukan dan tembakan di waktu yang sama, yang membuat Dia menerima luka yang sangat fatal tepat di jantungnya.
Soerja semakin histeris setelah melihat Ibunya di tembak. Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
(Huuuf, haaaagh-huuuuuf~… Dasar)
“Uhu-uhuaaaaaaa…”
Karl terduduk di dekat pintu. Dia menghela nafas berulang kali sebelum Dia mencoba berusaha mengeluarkan pisau yang tersangkut di tulang lengan kirinya dengan tangan kanannya.
“Yraaa, eh’aaaaaarh…”
Dia berteriak kesakitan saat berusaha menarik pisau dari tangannya. Semakin keras dan semakin keras seiring longgarnya pisau yang tersangkut.
Ckreic!, Kle’leiing!
(Yaaaaarghh, ssssst, a-a’aarh…)
Karl berusaha menahan rasa sakit dan pendarahan yang ia alami dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja ia tak bisa menahan erangan kesakitannya.
(Ah, tuhaan… Argh)
Karl melepaskan lalu membuka tasnya dengan tangan kanannya, berniat mencari perban untuk menghambat pendarahan, sambil terus berharap dia masih sempat menghambatnya sebelum kehilangan terlalu banyak darah.
“Uhu-uhu’hu, aaaaargh-huuh… Hey, Kau!”
(… Heeeh, sekarang apa lagi?)
Soerja melap air mata yang membasahi sebagian wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah kering, ia menutup wajahnya yang mendongak ke atas dengan kedua tangannya sebelum mulai berteriak frustrasi, dan dengan berani berdiri untuk melihat Karl yang hampir sekarat karena pendarahan hebat.
Beberapa kali ia kembali menutup wajahnya atau lebih tepatnya matanya karena tak kuat melihat kondisi Karl yang baginya sangat sadis.
(Heergh, hah… Hm, anak ini, sangat berani untuk berdiri dan melihat darah, tidak seperti cerita-cerita senior… Ah, tapi… Ek’ekgh, paling nanti ciut lagi)
Bukannya semakin takut, Soerja semakin berani dan berani untuk maju dan menghadapi Karl yang merupakan prajurit NICA dan seorang pejuang Belanda.
Mengapa ia begitu berani? Karena Ia mengingat perkataan almarhum ayahnya saat ia pulang ke rumah dengan keadaan penuh luka-luka di sekujur tubuhnya karena terkena lemparan batu dari teman-temannya.
Saat ia pulang, ayahnya langsung marah, “Kenapa tidak kau lawan? Mereka tidak akan berhenti karna kau tidak melawan. Lawan!”. Ayahnya sangat keras mendidiknya, tapi bukan dalam pekerjaan tapi mental.
“Yaaaarh!”
(Apalah anak ini?)
Soerja berlari maju dengan ekspresi marah, sambil berteriak untuk mengurangi rasa takutnya yang memperhambatnya untuk terus maju. Karl yang melihat keberanian Soerja awalnya beranggapan bahwa Soerja tidak akan berani menyerangnya, tapi ternyata dia salah.
Soerja terus maju tak kenal takut dan mengambil pisau yang di lempar Karl karna kesakitan. Darah dari dua orang yang saling bermusuhan sudah tercampur dan menempel di pisau itu, begitu juga dengan kakinya yang sudah menginjak darah dari kedua orang itu saat berlari maju untuk menghadapi rasa takutnya tadi.
(Ah, mengesankan. Tapi, dia hanya anak 10 tahunan, ini akan mudah… Auch)
“Hiyaaaat!”
Walau sedang berusaha melilit perban dengan satu tangan, yang jelas akan membuat fokusnya terbagi dua dan menurunkan keberhasilannya untuk bertahan, tapi Karl masih saja meremehkan kemampuan Soerja karena Ia masih hanyalah seorang anak kecil berumur 10 tahunan.
“Hyaaaaaaa… Mati kau!”
Sr’reeeet! tcreek!
“Auch!”
Akibat terlalu meremehkan dan kurang fokus pada lawannya, Karl tertusuk pisau Soerja yang ditusukkannya ke telapak kaki kanannya karena Karl mencoba menahan Soerja dengan kakinya sebelumnya. Tapi untungnya tusukan Soerja tidak dalam karena tertahan oleh alas sepatu bot tentara yang dikenakan Karl cukup tebal untuk menahan tusukan pisau Soerja.
(Aaaargh, enyahlah!
“Aarh…”
Gdebrug!
Soerja mencopot pisaunya dari sepatu bot Karl supaya bisa lanjut menusuknya lagi di bagian lain yang lebih lemah. Tapi sayangnya, Ia tidak memperhitungkan serangan balik Karl. Akibatnya ia ditendang dengan keras oleh Karl dengan kaki kanannya yang baru saja tertusuk.
(Penjajah-penjajah terus yang diocehkannya, Heeeeikh, dia sudah sangat membenci Belanda)
Karl yang baru saja selesai mengikat perban di tangan kanannya, kemudian mengambil pisau yang di jatuhkan Soerja saat ditendang keras tadi.
Karl yang melihat Soerja terduduk lemas di dinding, membuatnya teringat kembali dengan adiknya yang telah wafat karena menjadi korban perang dunia kedua yang terjadi di Eropa.
Saat itu dia belum menjadi tentara, Dia hanya berprofesi sebagai pemburu yang menjelajahi hutan sepanjang hari untuk nantinya hasil buruannya itu dijual ke pedagang. Suatu hari saat Dia pulang ke rumahnya yang terletak dekat dengan perbatasan Jerman, Dia melihat rumahnya sudah hampir roboh karena ikut ter dampak kerusakan yang disebabkan oleh serangan Jerman terhadap Belanda dan negara-negara sekutu lain.
Karena itu, dia langsung terkejut dan panik saat melihat rumahnya yang sudah hampir roboh, saat Dia membuka pintu rumah, Dia melihat adik satu-satunya tergeletak di lanta ruang tamu rumahnya. Dia langsung panik dan memeriksa denyut nadi adiknya sembari terus berharap agar adiknya tidak meninggal, tapi takdir berkata lain.
Dia sangat terpukul waktu itu dan itulah hal yang memotivasinya untuk bergabung dengan tentara Kerajaan Belanda. Tapi, Belanda sudah terlanjur kalah dan Dia di kirim ke Indonesia setelah Jepang menyerah.
“Hey nak, apakah menurutmu kami ini tak manusiawi?”
Karl bertanya pada Soerja dengan nada serius yang terus diusahakan untuk menjadi santai dan begitu juga dengan ekspresinya yang dibuat-buat agar terlihat ramah supaya tidak menakuti Soerja. Tapi jelas, itu tidak ada gunanya.
“Ya Kalian, kalian sangat tak manusiawi dan sangat keji, kalian sudah merampas kebebasan bangsaku berabad-abad… Dasar penjajah”
Soerja menatap mata Karl tanpa adanya rasa takut sama sekali yang terpampang dari gerakan ataupun ekspresinya yang marah.
“Apa, kamu punya impian?”
“Ya, menghancurkan kalian”
Melihat reaksi dan jawaban dari Soerja yang sedari tadi tampak tak peduli dan penuh kebencian, Karl mulai tak membuat-buat ekspresi dan nadanya.
Hal itu membuat ekspresinya berubah dari yang awalnya ramah dan hangat menjadi lebih serius tapi juga lelah, serta nada suaranya yang awalnya halus kini menjadi lebih berat dan lambat.
“Aku juga punya, tapi sekarang itu sudah mustahil untuk diwujudkan.”
“Kalian memang pantas merasakannya, kalian tak berhak mencapai impian kalian karna menghapus impian orang lain.”
Setelah Karl mendengar jawaban Soerja yang sangat menjengkelkan dan kasar membuatnya mengeraskan gigi dan menghantamkan tangannya ke lantai.
Gdeg!
“Dasar kau, apa kau pikir aku tak punya perasaan karena ikut berperang melawan kalian? Kami melakukan ini agar bisa menafkahi Ibu kami, Adik kami, Ayah kami, keluarga kami…!
Eropa sudah hancur dan sudah tidak ada lapangan pekerjaan di sana, satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah ikut bertempur agar bisa tetap mendapat makanan dengan terjamin.
Kami sebenarnya tak ingin membunuh, tapi kami terpaksa melakukannya agar bisa terus menafkahi keluarga kami yang terpuruk.
Haaaaaaargh…”
Karl meluapkan semua emosinya yang sudah terpendam jauh sebelum dia datang ke Indonesia. Dia masih seorang manusia, sama seperti Soerja.
“Ak, Heiiiirgh. Dasar egois, Kalian rela memupuskan impian orang lain demi impian kalian sendiri.!”
Perdebatan mereka berdua menjadi semakin tegang dan serius seiring berjalannya waktu. Mereka saling menatap tajam dan saling membentak satu sama lain. Sepertinya Soerja sudah benar-benar kehilangan rasa takutnya pada Karl.
“Pengorbanan dibutuhkan untuk mencapai kemenangan.”
(Aaargh, kendalikan dirimu Karl. Kau tidak seharusnya melampiaskan emosimu pada anak kecil yang tak tau apa-apa… Cikh, Aku bukanlah komandan ataupun versi mudaku yang kasar, aku adalah Karl)
“Itu sangat egois, kalian memang penjajah. Lalu apa yang kau katakan dengan bahasa bodohmu itu ha?”
(Huuuf, baiklah)
Karl yang tampak sudah sangat muak, kemudian berdiri dengan tangan kanannya berpegangan pada lemari di sampingnya. Walau sulit Dia tetap berusaha sampai berhasil berdiri.
Ekspresinya masih sama sedari tadi, yaitu marah bercampur lelah dan dengan nafas yang jelas terdengar dari jarak beberapa meter darinya, Dia mulai berjalan selangkah demi selangkah. Langkah kakinya yang sedikit pincang dengan sepatu bot kulit tebalnya yang keras menapak di lantai semen membuat suara yang sangat khas.
Ptoouk! Ptoouk! Ptoouk!
“Hey, Kau. Apa yang akan kau lakukan?”
“Kau tidak perlu tau, kau akan mengetahuinya setelah semua ini berakhir”
“He’hey, aarkh”
Soerja mencoba berdiri dengan bantuan kedua tangannya agar bisa berlari menjauh dari Karl yang mulai semakin dekat. Tapi sekeras apa pun ia mencoba, ia tetap tidak bisa berdiri karena punggungnya yang sakit akibat tendangan keras Karl sebelumnya.
“Hei, aa’arkh…”
“Tenang saja aku tidak akan sampai membunuhmu!”
Karl meraih leher Soerja dengan tangan kanannya untuk kemudian dia angkat dan cekik di udara, tapi Karl melakukannya tidak sampai Soerja tewas tapi hanya sampai pingsan saja.
(Tampaknya akan percuma memberi tahu anak ini tentang kebenaran dunia, jadi sebaiknya aku
membawanya ke kamp saja, supaya dia bisa menyaksikannya sendiri)
Karl tersenyum tipis saat mengucapkannya dengan lelah. Setelah Soerja pingsan, Karl kemudian membopong tubuh Soerja di pundak kanannya agar mudah dibawa ke kamp medis Kerajaan Belanda.
Bangun-bangun Soerja sudah berada di kasur hijau yang empuk dengan meja di samping kirinya yang dipenuhi obat. Ia benar-banar tidak tau sedang di mana sekarang, tapi ia bersyukur sudah dibantu pengobatannya oleh dokter yang ada di sana walaupun ia awalnya membenci orang-orang Belanda.
Seiring Soerja dirawat di kamp itu, ia melihat banyak prajurit-prajurit yang dirawat memiliki lukaluka yang berbeda-beda dan semuanya sangat mengerikan.
Ada yang menangis sembari berteriak saat peluru dikeluarkan dari tubuhnya, ada yang terpaksa harus diamputasi bagian tubuhnya, dan ada yang harus kehilangan kedua bola matanya karena ledakan granat yang membuat tangisannya yang seharusnya mengeluarkan air mata berubah menjadi darah merah kehitaman karena kotor.
Semua itu membuat kebencian Soerja ke pada orang-orang Belanda perlahan-lahan turun, apalagi ia sering mendengar dan menanyakan pengalaman mereka saat bertempur yang membuat Soerja semakin iba.
Akhirnya setelah perang usai dan Indonesia sepenuhnya telah merdeka, Soerja tumbuh sebagai orang yang sangat membenci perang serta menolak segala bentuk intimidasi terhadap bangsa lain. ***
Perhatian: Cerpen ini tidak ditulis untuk mendukung praktik penjajahan apa pun atau merendahkan perjuangan kemerdekaan bangsa mana pun.







