OpiniTerkini

Menemukan Jati Diri Bahasa di Belantara Media Sosial

KABATerkini.com
×

Menemukan Jati Diri Bahasa di Belantara Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh - Dilla, S.Pd. (Guru SMP Negeri 2 Bukittinggi)

Teknologi hari ini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi detak jantung kehidupan. Dalam peradaban digital yang serba instan, informasi mengalir deras tanpa henti, menciptakan standar keberhasilan yang kerap diukur dari kecepatan. Generasi Z tumbuh di tengah pusaran ini, dan menjadi sebuah generasi yang dibesarkan oleh algoritma, dibayangi tuntutan produktivitas, dan dihantui kecemasan akan ketertinggalan atau fear of missing out (FOMO).

Tekanan psikologis dan derasnya arus informasi tersebut tidak hanya mengubah pola hidup, tetapi juga membentuk cara Generasi Z berbahasa. Bahasa mereka di media sosial yang singkat, cair, dan sarat campuran istilah asing menjadi cermin adaptasi terhadap dunia yang bergerak terlalu cepat. Pada titik inilah konsep Trigatra Bangun Bahasa Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing menjadi relevan. Bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan sebagai jangkar agar di tengah riuh komunikasi digital, generasi muda tidak kehilangan identitas dan jati diri bangsanya.

Generasi Z dikenal kritis dan adaptif, namun di balik itu tersimpan kerentanan emosional yang kerap tak terlihat. Kemampuan mereka beradaptasi dengan teknologi tidak selalu sejalan dengan ketahanan mental. Banyak anak muda tampak santai, tetapi menyimpan kelelahan akibat tuntutan akademik, ekspektasi sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Generasi Z adalah mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, Generasi Z tumbuh bersama media sosial sebagai ruang utama berkomunikasi, berekspresi, membangun identitas, bahkan membentuk komunitas. Dari ruang inilah lahir fenomena linguistik khas: bahasa Generasi Z yang dinamis, kreatif, dan sering kali provokatif.

Ciri-cirinya antara lain penggunaan singkatan yang komunikatif (gws, btw, jg), pelesetan kata (mager), campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, Melayu, atau dialek daerah, serta metafora visual seperti toxic atau gaskeun. Lebih dari sekadar gaya, bahasa ini mencerminkan cara berpikir, nilai, dan tantangan generasi yang hidup di era serba cepat.

Baca Juga  Momen Idul Fitri, Walikota Fadly Amran Syukuri Program Kerja 40 Hari Lancar

Dampaknya tentu beragam. Secara positif, bahasa ini mempercepat komunikasi dan memperkuat solidaritas. Ungkapan seperti gaspol, skuy, atau ygy menciptakan rasa kebersamaan. Dalam dunia pendidikan, bahasa ini bahkan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan. Siswa sering lebih termotivasi menulis laporan atau refleksi ketika pendekatan bahasa terasa akrab dan relevan dengan kehidupan mereka. Media, pada akhirnya, memang bertujuan untuk dibaca dan dipahami.

Bahasa Generasi Z juga memperluas partisipasi publik. Melalui thread, Twitter (X), TikTok, dan Reels Instagram, mereka aktif membahas isu sosial, budaya, dan politik. Narasi yang ringkas namun tajam mendorong kesadaran akan literasi digital, kesehatan mental, hingga relasi yang tidak sehat, isu-isu penting dalam pendidikan karakter di era digital.

Namun tantangan tidak dapat diabaikan. Salah satunya adalah melemahnya kemampuan berbahasa formal, terutama dalam konteks akademik dan profesional, jika tidak diimbangi dengan pembiasaan literasi yang terstruktur. Selain itu, perbedaan gaya bahasa berpotensi memicu miskomunikasi lintas generasi. Orang tua, guru, dan institusi kerap kesulitan memahami ekspresi Generasi Z, sehingga jarak antargenerasi semakin melebar. Normalisasi bahasa yang terlalu santai juga berisiko mengikis kepekaan terhadap etika dan kesantunan berbahasa dalam konteks resmi.
Di sinilah Trigatra Bangun Bahasa menemukan perannya. Bahasa Generasi Z memang efektif dan multimodal dengan memadukan teks, gambar, suara, dan gerak. Namun komunikasi yang baik bukan sekadar cepat dan viral, aa harus tepat, jelas, dan bertanggung jawab. Peran pendidik menjadi krusial untuk membimbing generasi muda memahami ragam bahasa: kapan menggunakan bahasa santai ala media sosial, dan kapan beralih ke bahasa formal dalam surat resmi, laporan, atau wawancara.

Baca Juga  Presiden Jokowi dan Para Menteri Tampilkan Kebinekaan Budaya dalam Perayaan Hari Lahir Pancasila di Dumai

Sebagai alat pemersatu, bahasa Generasi Z bersifat inklusif dan lintas batas. Ungkapan seperti gemoy, anjay, atau wkwkwk dipahami dari Aceh hingga Papua. Namun fragmentasi juga mungkin terjadi melalui bahasa gaul lokal. Trigatra menegaskan bahasa Indonesia sebagai lingua franca, bukan untuk meniadakan keberagaman, melainkan sebagai jembatan. Tantangannya adalah memadukan kreativitas Generasi Z dengan tanggung jawab kebangsaan, misalnya melalui pantun sebagai pembuka acara sekolah atau cerpen berlatar kearifan lokal dengan bahasa Indonesia baku sebagai tulang punggungnya.

Pada akhirnya, bahasa Generasi Z adalah denyut zaman yang tak bisa dihindari. Tugas kita bukan mematikannya, melainkan menuntunnya agar tetap berpijak pada nilai, etika, dan identitas bangsa, sehingga di tengah belantara media sosial, jati diri bahasa Indonesia tetap terjaga dan berdaulat.

Biodata Penulis

Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi, pada tanggal 8 Juni 1981. Beralamat di Jl. H. Abdul Manan No. 49, Simpang Guguk Bulek, Bukittinggi.  Saat ini mengajar di SMPN 2 Bukittinggi. Telah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi. Aktif menulis di berbagai media Massa cetak dan online  dalam dan luar negeri. Penulis bisa dihubungi melalui email,  dillaspd6@gmail.com, facebook: Espede Dilla, Instagram: @dilla.spd dan telegram: dilla S.Pd  blog: www.dillaspd.my.id    Nomor Kontak dan WA : 081363320742
Biodata Penulis